Mengenal adat pemakaman Desa Trunyan, berikut penjelasannya!

Bali adalah salah satu tempat dari destinasi wisata yang terkenal dengan tradisi serta adat istiadatnya yang unik di kalangan para wisatawan baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan mancanegara. Salah satu tempat yang cukup terkenal dan unik adalah desa Trunyan. Desa ini terletak di Kabupaten Bangli dan dikenal oleh banyak orang bahkan seluruh dunia karena mempunyai tradisi pemakaman yang bisa dibilang menarik dan unik bila dibandingkan dengan desa- desa lain yang ada di Pulau Bali yang indah ini. Keunikan tersebut yaitu terletak pada tradisi meletakkan jenazah di area pemakaman tanpa ngaben atau dikubur lebih dulu.

Namun menariknya, meskipun jenazah tersebut tidak dikubur atau ngaben lebih dulu tidak ada aroma yang tidak sedap atau aroma bangkai di dalam area pemakaman tersebut. Apabila anda tertarik dan penasaran ingin mengetahui lebih banyak tentang Desa Trunyan dan adat pemakaman tersebut, anda bisa menyimak pembahasan lengkap di bawah ini.

Sejarah Desa Trunyan

desa-trunyan-Sejarah

Sebelum membahas hal- hal lebih lanjut terkait dengan tempat tersebut, tentu aka nada yang kurang jika anda tidak mengetahui lebih awal sejarah dari tempat itu sendiri. Sejarah mengenai Desa Trunyan itu asal mulanya saat dahulu ada raja Solo yang bertahta di Keraton Surakarta lalu mempunyai 4 anak dimana terdiri dari 3 laki- laki dan satu perempuan. Pada saat itu, mereka mencium bau atau wangi harum yang sangat menyengat dan semerbak harumnya. Lalu sang putri bangsu memberi tahu jika bau harum itu asalnya dari arah timur. Seakan seperti terhipnotis, keempat anak raja itu sepakat untuk meminta izin kepada ayahnya untuk mencari dimana asal bau tadi dimana bisa tercium bahkan hingga ke dalam istana. Lalu keempatnya melakukan perjalanan hingga saat semakin dekat ke arah timur bau harum tadi semakin menyengat hingga pada akhirnya tiba di Pulau Bali lebih tepatnya di Desa Ciluk Karangasem dan juga Tepi dekat Buleleng.

Saat tiba di kaki Gunung Batur bagian selatan, si putri bungsu tadi tiba- tiba saja ingin berhenti dan menetap, lalu keinginan dari si anak perempuan tadi pun disetujui oleh ketiga kakak laki- lakinya. Semenjak saat itu, sang putri bungsu pun mulai menetap disana yaitu di Lereng Gunung Batur dimana tempat Pura batur berdiri, dan sang putri tadi diberi gelar sebagai Ratu Ayu Mas Maketeg. Lalu ketiga kakak tadi melanjutkan perjalanan, hingga terjadi adu mulut antara kakak si sulung dengan adiknya yang ketiga hingga akhirnya si sulung menendang adik yang ketiga dan posisinya jatuh bersila kemudian menjadi patung. Lalu saat melanjutkan perjalanan lagi, si sulung adu mulut dengan pangeran kedua hingga akhirnya si sulung menendang pangeran kedua hingga jatuh telungkup. Lalu, saat mereka melanjutkan perjalanan kembali, si sulung bertemu dengan seorang dewi dan tertarik untuk dijadikan istri. Lalu sang pangeran menjadi raja melindungi rakyatnya dengan menghilangkan bau wangi dari pohon taru menyan.

Read More : Ketahui Seluk Beluk Suku Baduy: Suku Dalam dan Luar, Apa Bedanya?

Fakta Unik Desa Trunyan

desa-trunyan-Fakta-Unik

1. Pohon yang usianya mencapai ribuan tahun

Fakta unik yang pertama dari Desa Trunan adalah ada pohon yang usianya mencapai ribuan tahun. Tentu hal ini menjadi hal yang sangat menarik karena seperti yang kamu ketahui jika jarang sekali ada pohon yang usianya bisa mencapai ratusan tahun bahkan ribuan tahun. Di tengah area pemakaman Desa Trunyan itu ada pohon besar yang tumbuh, tapi aneh dan menariknya pohon tersebut tidak mengalami banyak perubahan yang signifikan. Warga sekitar yang ada disana percaya jika pohon besar tersebut bisa menyerap adanya bau tidak sedap ada bau busuk dari jenazah yang diletakkan di bawah pohon besar itu. Maka dari itu, pohon yang sudah berusia ribuan tahun yang masih dipercaya oleh warga sekitar.

2. Ada sema bantas dan sema muda

Fakta lain dari Desa Trunyan yang menarik lainnya yaitu ada sema bantas dan juga sema muda. Bagi orang- orang yang meninggal secara tidak wajar misalnya kecelakaan atau bunuh diri, dna sebagainya maka jenazahnya tidak boleh diletakkan di dekat pohon Trunyan, sehingga nanti akan diletakkan di tempat tersediri yang diberikan nama yaitu sema bantas yaitu tempat bagi mereka yang meninggal dengan cara tidak wajar. Lalu ada juga sema muda yaitu tempat atau area pemakaman untuk orang- orang yang masih anak- anak atau bayi, masyarakat yang sudah besar dan dewasa akan tetapi belum menikah, maka nani untuk tempat pemakaman sudah ditentukan dan dibedakan yang sesuai dengan kaidah atau aturan yang berlaku di desa tersebut. Sehingga tidak semata- mata hanya diletakkan begitu saja, melainkan ada kaidah atau aturan yang harus diterapkan.

3. Nama Trunyan diambil dari nama area pemakaman

Fakta yang ketiga yaitu nama trunyan ini ternyata diambil dari nama sebuah area pemakaman yang ada di Desa Trunyan itu sendiri. Bila pada umumnya nama sebuah area pemakaman mengikuti nama desa, ini justru sebaliknya. Lalu biasanya dalam sebuah pemakaman itu identic dengan kain kafan atau peti mati dan lain sebagainya, ternyata berbeda dengan area pemakaman yang ada di Desa Trunyan ini. Jenazah yang meninggal di Desa Ini hanya akan diletakkan di atas tanah, lalu untuk anggota keluarga nanti hanya akan memberikan sesaji di samping jenazah itu.
Di atas adalah penjelasan lengkap mengenai Desa Trunyan, jika kamu ingin berkunjung kamu bisa membeli Tiket Pesawat/Hotel di Airpaz.com atau melalui Airpaz App.

promo-Airpaz

Share with us

Tinggalkan komentar